Sawit dan Batu Bara Punya Kita, Mengapa Uangnya Milik Tetangga?
Anak Jambi menjala ikan,
Ikan didapat di Batanghari.
Hasil alam sudah dikeruk habis-habisan,
Mengapa uangnya dibawa lari?
Ironi ekonomi kita sering kali terpampang nyata di depan mata: truk-truk batu bara berderet memadati jalan lintas Jambi, dan hamparan sawit sejauh mata memandang, namun kemakmurannya seolah hanya "numpang lewat". Fenomena ini baru saja mendapat sorotan tajam dari Prabowo Subianto yang menyentil keras para eksportir karena gemar memarkir uang hasil kekayaan alam kita di luar negeri.
Secara akademis, ini adalah masalah klasik capital flight atau pelarian modal. Kita mengekspor kekayaan bumi yang tak terbarukan, tapi Devisa Hasil Ekspor (DHE) justru lebih betah mendekam di bank-bank Singapura atau negara suaka pajak lainnya. Bagi seorang jurnalis aktivis, ini bukan sekadar urusan angka di neraca perdagangan, melainkan persoalan kedaulatan dan rasa keadilan bagi tanah tempat kekayaan itu digali.
Nasionalisme vs Bisikan Rekening Asing
Sentilan Prabowo adalah pengingat bahwa perusahaan besar memiliki tanggung jawab moral. Sangat satir rasanya melihat perusahaan mengeruk profit dari tanah Indonesia, menggunakan infrastruktur publik, namun saat uangnya cair, mereka lebih memilih memperkuat likuiditas negara tetangga. Padahal, jika dana tersebut kembali ke sistem perbankan nasional, dampaknya akan sangat masif untuk memperkuat nilai tukar Rupiah.
Masalahnya, apakah regulasi kita sudah cukup "bergigi" untuk memaksa uang-uang ini pulang? Ataukah selama ini kita terlalu ramah pada mereka yang kenyang dari bumi pertiwi tapi enggan berkontribusi pada stabilitas moneter dalam negeri? Ini adalah pertarungan antara kepentingan korporasi yang mengejar profit maksimal dan kepentingan nasional yang mengejar ketahanan ekonomi.
Logika Investasi yang Tergadaikan
Kita sering bicara soal menarik investasi asing, namun kita lupa menjaga agar hasil dari investasi tersebut tidak terbang begitu saja. Bagi para eksportir, memarkir uang di luar negeri mungkin dianggap sebagai lindung nilai (*hedging*). Namun bagi rakyat yang terdampak debu tambang atau ekspansi lahan sawit, tindakan ini adalah bentuk pengkhianatan ekonomi secara halus.
Jeda Refleksi
Di tengah hiruk pikuk ekspor sawit dan batu bara, mari kita ambil sebuah jeda refleksi. Ekonomi bukan hanya tentang seberapa banyak barang yang dikirim ke luar, tapi seberapa banyak nilai tambah yang tinggal dan menghidupi rakyat di dalam negeri.
Sebagai warga Jambi yang melihat langsung lalu lalang kekayaan alam ini, kita perlu bertanya: Apakah kita sudah benar-benar berdaulat secara finansial, atau kita hanya menjadi penonton di tanah sendiri?
Pesan yang disampaikan Prabowo sangat jelas: hilirisasi bukan hanya soal pabrik, tapi juga soal "hilirisasi" uang hasil ekspor. Tanpa komitmen untuk membawa pulang devisa, kekayaan alam kita hanya akan menjadi catatan statistik yang indah di atas kertas, sementara realitas di lapangan tetap saja gersang.
Komentar
Posting Komentar